Jumat, 30 Agustus 2013

Dok Berita UIN pada Dies Natalis Ke 19 KPI

Jelang Dies Natalis ke-19, BEMJ KPI Gelar Sejumlah Acara PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Jaenuddin Ishaq   
Rabu, 06 Mei 2009 20:34   
Reporter: Jaenuddin Ishaq
Gedung FDK, UINJKT Online - Dalam rangka menyambut ulang tahun Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) ke-19 pada 15 Juni mendatang, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) mengadakan serangkaian acara seperti bazar, donor darah, futsal, bedah novel, bedah film, dan pembuatan komik.
Sekretaris Jurusan KPI Umi Musyarofah MA, berharap mahasiswa dapat lebih kritis. Kritis tidak hanya di organisasi, tapi juga ketika dosen mengajar mahasiswa aktif bertanya. "Mahasiswa sekarang terlihat kurang aktif bertanya, itu terlihat misalnya ketika saya mengajar," kata Umi saat ditemui UINJKT Online di ruang kerjanya, Selasa (5/5). 

Selain itu ia berharap, mahasiswa dan alumni KPI juga dapat memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat. "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.   Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, dan di belakang memberi dorongan," jelas Umi.

Sementara itu, Presiden Jurusan KPI, Sirajuddin Arridho, mengatakan, serangkaian acara tersebut digelar untuk menyambut ultah hingga hari H. "Acara ini kita adakan dalam rangka menyambut ulang tahun Jurusan KPI dan ini termasuk juga ulang tahun FDK," kata Ridho.

Acara dimulai pada Senin (4/5) hingga 15 Mei mendatang. Untuk donor darah akan dilaksanakan pada Jumat 29 Mei.

Jurusan KPI sebelumnya bernama Penerangan dan Penyiaran Agama (PPA). Kemudian berdasarkan SK Dirjen Binbaga Depag RI No E/48/1999 PPA berubah menjadi KPI. Kini jurusan yang dipimpin Drs Wahidin Saputra MA ini memiliki sekitar 470 mahasiswa. ()

Sejarah JTV

tulisan ini diambil dari www.jurnalistiktv.com

Tuesday, January 1, 20130

Sejarah JTV


Jurnalistik Televisi atau yang biasa disebut JTV adalah suatu komunitas jurnalistik (pencari berita) yang bergerak dibidang media televisi dalam penyampaian berita yang ingin disampaikannya yaitu dengan menggunakan metode liputan langsung di tempat kejadian maupun liputan tidak langsung di dalam studio.
Awal berdirinya JTV adalah Ketika itu di jurusan komunikasi penyiaran islam (KPI) terbesit suatu ide pemikiran dari  Sirajuddin Ar Ridho yang saat itu menjabat sebagai presiden KPI, beliau ingin mengadakan suatu gebrakan baru dalam tubuh Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan  KPI yang dapat mewadahi para mahasiswa KPI dalam memenuhi kreatifitasnya untuk pemenuhan bakatnya. Pemikiran itu didasarkan pada, kurangnya pengajaran praktek di dunia broadcast secara langsung yang diberikan Jurusan KPI itu sendiri, karena pada faktanya di Jurusan KPI pengajaran yang menjurus ke arah Komunikasi dan broadcast baru diberikan pada smester 4 ketika smester 1 sampai 3 masih dibekali dengan pembelajaran tentang agama islam. Untuk itu Pada tahun 2008 tanggal 22 oktober  tepatnya di Fakultas ilmu dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN syarif hidayatullah Jakarta JTV (journalistic television) dibentuk oleh Badan Eksekutif Mahasiswa KPI dan di tunjukan untuk mahasiswa KPI dalam pemenuhan bakat dan kreatifitas nya. Pada awal berdiri nya JTV hanya beberapa orang saja, namun seiring dengan dikenal nya JTV di jurusan KPI, Anggota JTV menjadi komonitas yang cukup mewadahi para mahasiswa KPI dalam pemenuhan kreatifitasnya.

VISI :
Menjadi komonitas yang dapat mewadahi mahasiswa KPI dalam pemenuhan bakatnya yangingin belajar lebih dalam di bidang jurnalistik televisi.
MISI:
Mengajarkan dasar-dasar serta teknik-teknik yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang ada di dalam jurnalistik televisi.

Surat Untuk dekan ku

Tulisan ini di ambil dari La Ode Khusnul Hulk dan dapat di lihat langsung melalui blog http://laodehuluk.blogspot.com/2011/11/surat-untuk-dekanku-25-26-november-2010.html

25-26, November 2010 M
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Senangnya diriku jauh dari BUTON-SULAWESI TENGGARA bisa lulus untuk kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mataku berbinar-binar akan keindahan kampus yang biaya kuliahnya sedikit mustahil kalau dibanding dengan kemegahannya. FAKULTAS-ku FDK yang kini berubah menjadi FIDKOM (Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi), pertama kalinya kubelajar didalamnya membuatku gembira tiada tara. Seringkali bahkan tiap kali mata kuliah berbeda, para Dosen (orang tuaku dikampus) selalu menanyakan alasanku kenapa jauh-jauh datang belajar kesini. Jawabku selalu sama yaitu, “saafir tajid ‘iwadhon ‘amman tufaariquhu, fanshob fa inna ladziiza-l’aisyi fin-nashobi”.
Moga Pak Dekan senang dan terhibur dengan penggalan-penggalan kataku yang sudah cukup lama ingin kuungkapkan pada almarhumah Ibuku.

Pak, sebelumnya saya harus mohon maaf sama Bapak karena nama lengkap Bapak hingga kini mungkin saya belum tahu kalau bukan peluang menulis “surat untuk dekanku” ini. Hukuman apapun sangat pantas untuk mahasiswa KPI 3B ini Pak. Mungkin kalau dosen-dosen lain yang membaca surat ini pasti wajahnya akan berubah dan marah lantaran orang tuanya tak dikenali oleh anaknya. Tapi please Pak, saya ingin bercerita sama Bapak walau cuman lewat beberapa lembar kertas.

Bukan berarti saya tidak mengenal Bapak. Wajah, profesionalisme dan kinerja Bapak terlihat oleh saya. Begitupun Dosen yang mengajar dikelasku. Mungkin karena kegembiraan yang berlebihan dan senang diajar dan didik Dosen di FIDKOM hingga saya tidak memerhatikan nama-nama orang tua saya. Itu bukan berarti saya tak peduli sama antum-antum. Berawal saya mengenal jiwa profesional, metode pengajaran yang baik dan kerendahan hati Antum-antum membuatku tak dapat melupakan nama Antum setelah mengetahuinya. Nama baik bukan sekedar nama, tapi nama itu laksana jiwa yang selalu membuat saya membayangkan kehebatannya jika mendengarnya. Seperti Soekarno, pertama kukenal kegigihan dan keteladanan beliau bukan dengan nama Ir. Soekarno tapi dengan nama “Sukarno”. Moga Bapak bisa paham maksud saya.

Bapak, Al-Marhumah Ibu ketika masih semester satu bertanya akan eksistensiku dikampus. Dengan bangga saya jawab, “Ibu, alhamdulillah saya berada di Fakultas dan jurusan yang tepat,”. Jawabanku itu adalah hasil dari cermatan dan penilaianku beberapa bulan kuliah di FDK/FIDKOM walau sedikit ragu. Al-Marhumah senang mendengar jawabanku begitupun Ayahku. Pesan dari Ayah, belajar dan bertawakkal serta berdo’a. Beberapa bulan berkomunikasi membuat mereka bangga akan peningkatan pada diriku. Pikirku, mereka pasti mengira FIDKOM-lah yang membuat peningkatan ini walau hanya sedikit atau lebih umum, UIN-lah yang meningkati.

Sudah terlalu jauh melenceng dari tema. Baiklah Pak, saya mulai intinya.

Kalau saya ditanya tentang apa saja yang berkembang di FIDKOM selama 20 tahun ini, maka tidak ada yang bisa saya jawab kecuali perubahan nama fakultasnya saja dari FDK-FIDKOM. Kurang lebih setahun empat bulan saya kuliah, jelas pada FIDKOM akan kehidupannya yang ramai. Mulai dari tempat nongkrong, sekret BEMF sampai kekompakan jajaran Dekan ketika (jam istirihat sebelum shalat zuhur saya kadang tak sengaja melihatnya). Dan yang lebih ramai lagi keragaman agenda dan kreasi yang ada didalam fakultas ini. Keakraban Dosen dengan Mahasiswa melahirkan kreatif yang spektakuler pada diri. Dukungan dan rangkulan terbukti ketika saya ditantang Sirajuddin Ar-Ridho mantan BEM J KPI (2009-2010) menjadi panitia Lomba Pembuatan Film Pendek untuk kalangan SLTA sejabodetabek. Saya dan kawan-kawan KPI semester satu lainnya berhasil melakukannya saat itu. Semuanya tidak lain dan tidak bukan karena kepercayaan tinggi Dekan, KAJUR dan jajaran-jarannya kepada kami bahwa kami dapat berkarya sejak dini.

Masih banyak bukti lain akan kedamaian FIDKOM yang dimilikinya. Beberapa organisasi-oraganisasi kecil telah lahir di FIDKOM seperti KLISE, VOC, GARUDA, TERAS KPI dll. Lebih dari itu, saya juga menyaksikan dan mendengar curhatan teman-teman semester tiga jurusan Management Dakwah ketika mau memberi FIDKOM lewat Acapella Nasyid mereka di pembukaan DEDIKASI 20. Dan masih banyak lagi group-group kecil lainnya yang Bapak dan jajaran Bapak belum tahu. Tapi mereka tak henti berkarya atas nama Jurusan dan Fakultas. Radio dakwah yang lazim ada diFIDKOM tidak mengubur kesempatan bagi para mahasiswa untuk belajar penyiaran. Teman saya jurusan Jurnalistik semester tiga menjadi salah satu penyiar di RDK.

Saya tidak bercerita sejarah FIDKOM karena yakin Bapaklah yang lebih tahu. Dan saya percaya, FIDKOM pasti telah melakukan reproduksi dengan cepat dan hebat. Hasil reproduksi itu jelas terlihat oleh kami selaku mahasiswa karena FIDKOM telah banyak melakukan hal-hal yang legendaris. Saya baru seumur jagung di KPI/FIDKOM seolah sudah berumur lama. Mengapa? Karena senioritas di FIDKOM sangat bagus. Saling menghargai, berpendapat dan mengoreksi selalu berputar diantara mahasiswanya dari semester awal hingga akhir tanpa pandang pintar atau kurang pintar. Pernah saya bergaul dengan mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum, salah satu teman saya president BEM F. Masalah yang harusnya mahasiswa FSH perlu tahu kadang tidak mendapatkan kepercayaan dari BEM. Maka tidak heran setiap ada agenda kecil sampai agenda besar, yang memenage adalah president dan orang-orang atas. Sementara mahasiswa semester satu/bawah sangat diragukan kemampuannya. Mungkin mereka ingin agenda berjalan lancar.

Beda dengan FIDKOM Pak, saya melihat itu bukan beropini semata. Dan saya bangga sama Bapak karena tidak ada persyaratan keaktifan di BEM harus memperhatikan ukuran semester. Kami bebas, sederhana, kaya ide, ikhlas dan mengantarkan kami kepada ukhuwah islamiyah yang erat. Bapak sepertinya kagum akan perubahan yang terjadi pada FIDKOM ini, itu kelihatan ketika secara tak sengaja kulihat wajah Bapak tersenyum indah di waktu pembukaan DEDIKASI 20. Semoga manurutku benar adanya. Hehehe,,,

Ada cerita pak. Tak sengaja saya melihat beberapa orang berdiri agak jauh didepan banner agenda DEDIKASI 20 tepatnya depan Fakultas Tarbiyah. Saya perhatikan mereka agak lama menatap dan membacanya. Saya menerka, mungkin lantaran banyaknya rangkaian acara dari agenda Milad Dakwah ini. Setelah beberapa lama mereka akhirnya meninggalkan banner itu dan mengacungkan jempol setelah selangkah dari ayunan kaki mereka. Pemandangan ini sangat jelas bahwa banyak yang ingin mengatakan good, best dan amazing for FIDKOM.

Bapak, Ibu saya berpulang kerahmatullah sebulan sebelum Ramadhan kemarin. Setiba diBUTON Ibu sudah tak bernafas. Jika beliau masih ada, saya secepatnya memberitahu kalau fakultasku adalah medan yang tepat dan terbaik untukku berkembang, bertempur dan berkarya. Saya berupaya melakukan itu dan terus belajar dari kakak-kakak saya di FIDKOM.

Di agenda DEDIKASI 20 ini ungkapan yang selalu kudengar, “Dakwah memang Fakultas Besar, kalau buat acara pasti hebat”. Agar Bapak tahu dan saya berharap di DEDIKASI ini uluran tangan bapak selalu ada dan bagiku itu adalah nafas bagi para Panitia dan yang mendukung acara ini. Termaksud saya dan mahasiswa Fakultas ini. Sebenarnya ini belum seberapa, masih banyak harapan-harapan lain. Beberapa orang berkata, agenda sebesar ini belum pernah di adakan UIN sendiri. Amazing Pak... hehehe. Dan ungkapan heran bercampur kagum akan lahirnya organ-organ kecil di FIDKOM seperti yang saya singgung diatas bisa-bisa UKM tersaingi kalau pihak Dekan selalu mendukung dan menfasilitasi.

Pak, bantu kami untuk menyingsingkan tangan, melangkahkan kaki kedepan untuk berkerja dan berkarya. Agar kami dapat hiasi masa muda ini dengan aktif sebagai ajang menyalurkan aspirasi dan ummat Islam di FIDKOM ini.

Sekian tulisan saya, jika ada kata-kata lancang mohon dimalukmi karena itulah semangat saya hingga berdampak pada kelemahan tulis saya. Sekali lagi saya ingin bilang, saya kenal bapak bukan berawal dari nama yang berembel-embel namun nama yang begitu bermakna dan realita. Wassalam,,.

La Ode Chusnul Huluk KPI 3B
TOLANDONA, BUTON SULAWESI TENGGARA

Petualangan Semiologi




Seorang teman menjelaskan kepadaku, kondisi asmaranya yang sedang dalam keadaan kurang menyenangkan, bagiku perjalanan asmara yang mereka jalani itu cukup menarik, penuh dengan dinamika dan mereka mampu melewati semua persoalan yang menghadangnya dari berbagai arah.

Panjang cerita yang temanku sampaikan, namun ada satu kata-kata menarik yang keluar dan mulutnya, kawanku menjelaskan tentang Personal Message (PM)  yang selalu ia gunakan dalam minggu-minggu ini di handphone blackberry nya. Dia sebut sebagai “petualangan semiologi”.

Aku sempat sedikit berpikir ketika awalnya aku melihat PM yang dia gunakan, tapi aku tak ingin menanyakannya. Hingga suatu hari dia menjelaskan alasannya menggunakan bahasa “petualangan semiologi” dalam kisah asmaranya.

Aku ingin membahasnya dalam tulisan ku kali ini, diawali dengan definisi semiologi yang paling umum adalah ilmu tentang tanda (berasal dari bahasa Yunani semeîonn yang berarti “tanda”). Nama ini diusulkan oleh Ferdinand de Saussure dalam Cours de lingusitique générale.

Bagiku, semiologi yang temanku maksud adalah seputar kekasihnya. Mencoba membaca tanda-tanda atau gejala lain dari hubungan yang sedang dia jalankan saat ini. apakah yang sedang terjadi dengan kekasihnya, perubahan demi perubahan sempat terlihat dengan mata kepalanya sediri, lalu apa yang harus dia lakukan?

Yahahaha, dilema yang berkepanjangan. Aku pikir hanya aku yang melakukan hal ini kepada seorang wanita. mereka tak pernah melibatkan Tuhan dalam memilih seorang wanita. Entah kenapa aku selalu terpikir bahwa “ada keterlibatan Tuhan didalamnya, ketika anda menyatakan perasaan anda kepada seseorang”.

Itulah yang aku yakini, saat ini aku katakan dengan jujur. Bahwa aku menginginkan satu penyatuan dengannya, dengan seorang gadis yang kuat, pintar, mandiri dan terbuka.

Ya, itu saja…

Rabu, 28 Agustus 2013

Puisi 3 >> Bunga


Oleh: Ridho

Kemarilah!
Gapai uluran tanganku
Kita berhadap tegap
Lalui alang yang datang

Hanya satu bunga
Ya… hanya satu bunga
Kala harum menyebar
Aku mencintaimu

aku dan Masa Depan Independensi Pribadi



Nak, hari ini ayah membaca Natsir yang ditulis Majalah Tempo edisi 14-20 Juli 2008.  Entah mengapa, setiap ayah membaca kisah-kisah para tokoh pergerakan kemerdekaan, ayah selalu merasa haru, sedih, bahagia, senang, benci, sakit hati dan jengkel, semuanya menjadi satu.

Natsir, seoraang pembesar yang ikut melahirkan negeri ini. Diusianya yang belia, ia telah merasai semua tantangan hidup.  Sekolahnya terkatung-katung, tapi ia tak pernah berhenti belajar.  Tempat tinggalnya  berpindah-pindah, tapi ia tak pernah berhenti mencintai kampung halamannya.  Guru dan temannya terdiri dari berbagai macam manusia, tapi tak pernah menyurutkan idealismenya.

Anakku, Seorang Natsir tumbuh dimasa negeri ini dilanda gelombang dan pekik kemerdekaan.  Ia telah menjadi lawan politik yang berat, tapi sekaligus sahabat yang hangat.  Sementara itu pula, ia tetap menjadi seorang suami dan ayah bagi istri dan anak-anaknya.

Natsir hidup dengan kemuliaan dan kehormatan.  Dalam karir puncaknya dipemerintahan, ia tak malu dengan kemiskinan yang mendera.  Ketika ia tak lagi terlibat dalam pemerintahanpun, ia dan keluarganya dapat hidup dalam kesahajaan.  Dialah teladan anakku, banyak teladan lain yang dapat kita petik dari pahlawan semacam dia.

Kini, 100 tahun Natsir telah mengguncang negeri dengan berbagai pemberitaan media.  Komentar dan hasil riset diramu dalam tulisan-tulisan panjang dan pendek.  Tapi apakah semua itu hanya sebuah acara peringatan saja? mengenang saja? atau memungut 'berlian hikmah' yang telah ditebar Natsir sepanjang hidupnya?

Setelah membaca Natsir, ayah menjadi haru.  Haru karena kegigihan sikap dan perjuangannya tak dapat terbantahkan.  Namun sikap dan perjuangannya itu terus berkobar tanpa pamrih.  Sementara sekarang, orang-orang negeri ini, jangankan bersikap, punya niat bersikap saja sudah tak mampu.  Apalagi berjuang.
Ayah menjadi sedih, anakku.  Sedih lantaran diusia tiga tahunmu, ayah tidak menjadi siapa-siapa.  Ayah hanyalah seorang ayah bagimu, tapi belum buat negeri ini.  Tapi, diantara kesedihan itu, ayah masih bisa berbahagia.  Bahagia karena menjadi ayah bagimu, adik yang saat ini tengah dikandung bundamu dan menjadi suami bagi bundamu.  Bahagia karena kalian terus-menerus menjadi inspirasi dan spirit.  Itu saja sudah teramat membahagiakan.

Sementara itu, ayah masih diliputi perasaan benci lantaran membaca tulisan tentang Natsir itu.  Ayah kemudian tersadarkan lagi betapa negeri ini tak penah lepas dari ikatan perselingkuhan dengan penjajahnya.  Sepertinya hal ini adalah perselingkuhan abadi. Bagaiamana mungkin akan berakhir bila pengurus negeri sibuk memikirkan untung pribadinya masing-masing.  Barangkali Natsir dan pahlawan lain di dalam kuburnya meratap sejadi-jadinya demi melihat perselingkuhan ini.

Ayah menjadi sakit hati dan jengkel, anakku.  Sakit hati dan jengkel karena kebanyakan manusia di negeri ini berperilaku seperti binatang.  Hukum berkuasa atas yang lemah saja, sementara yang kuat semakin kebal.  Subsidi diperuntukkan bagi yang kaya saja, sementara si miskin semakin melarat.  Korupsi meraja lela, sementara pemimpin bangsa tak berani berbuat apa-apa.

Anakku, ketika ayah membaca tulisan tentang Natsir, ayah membayangkan engkau.  Membayangkan kau tumbuh besar dan menjadi dewasa diatas sistim yang kapitalistik.  Kau menjadi manusia diantara kebuasan sesamamu.

Karena itu anakku, jadilah manusia merdeka.  Merdeka dalam menjalankan hidup duniawimu, pendapat-pendapatmu, keyakinan spiritualmu, sikapmu, intelektualmu dan merdeka atas dirimu sendiri.  Tapi anakku, dalam proses kemerdekaanmu, landasilah dengan kekuatan yang bersumber hanya dari Allah SWT. Seperti Natsir melandasi dirinya untuk memperjuangkan segala kemerdekaannya.

Anakku tersayang, dalam kegalauan pikiran ini, hanya sepucuk surat ini yang dapat ayah tulis.  Ayah menulis diantara hiruk-pikuk persiapan organisasi masyarakat di Sibolangit.  Sementara ayah menulis, mereka tengah sibuk merumuskan strategi dan rencana.  Strategi dan rencana mereka untuk terbebas dari penindasan dan menjadi manusia merdeka.

Hampir dua tahun ini, ayah dan kawan-kawan memfasilitasi kelompok-kelompok kecil masyarakat di Sumatera Utara.  Banyak sekali pelajaran disini, ada juga banyak teladan.  Namun masih banyak pengkhianat berkeliaran.  Pengkhianat ini hanya mengatas-namakan masyarakat untuk memperoleh keuntungan pribadi.  Ya, barangkali kami masih mencari sosok seperti Natsir.

Bagi ayah, tak perlu memusuhi para pengkhianat.  Mereka layak dijadikan teman untuk memupuk semangat.  Kadang terpikir, bila mereka tak ada, bagaimana mungkin kita bisa hidup? toh kita tidak sedang berada di surga. Barangkali Natsir juga tak akan bisa menjadi tokoh besar bila tak ada perbedaan antar manusia.

Nak, Natsir saat ini terbujur kaku dalam kuburnya, tapi semangat yang ia kobarkan akan terus menggelegak di dalam jiwa kita.  Peringatan ulang tahunmu dan ulang tahun negeri ini takkan mampu memeredam semangat itu.

Anakku, tulisan ini ingin ayah hadiahkan pada ulang tahunmu 27 Agustus nanti.  Ayah tahu kau tak kan mampu mengerti, bahkan untuk mengeja kata-kata saja kau masih kesulitan.  Apalagi bicara soal seorang Natsir.  Walaupun ayah tahu bahwa semua huruf dalam tulisan ini mampu kau sebutkan satu per satu.

Ayah masih bisa berbangga karena kau dan ibumu tidak menjadi bagian dari orang-orang munafik.  Kita hidup dengan keringat kita sendiri tanpa harus korupsi dan menindas, kecuali pinjaman untuk cicilan rumah kita. Satu lagi yang membuat ayah bangga padamu, bahwa cukup kita berempat (aku, kau, bakal adikmu dan bunda) serta sebuah kue yang kau minta untuk ulang tahunmu kali ini.

Jumat, 23 Agustus 2013

Antara Aku, Kau dan

Masih tentang dirimu..
Ya… masih dan akan tetap selalu tentang dirimu
Karena setiap pertanyaan yang muncul adalah tentang kamu
Tentang sikapmu dan kerinduanku
Ya.. karena kamu adalah jawaban..
dari semua pertanyaan yang membayang.
Boleh jadi kamu belum menyadarinya.. padahal sudah berulang kali kulontarkan isyarat-isyarat untuk menunjukkan bagaimana perasaanku. Tapi, entah mengapa itu tak berbalas ataupun berbekas di hatimu. Sikapmu tetap biasa kepadaku. Pernah ku berpikir.. apakah kamu tahu tentang aku dan cintaku? Apakah kamu berpura-pura dan tidak berempati atas keadaan hatiku?
Aku disini…
Tapi kenapa kau tidak pernah benar-benar memandang wajahku…
Aku di dekatmu dan selalu memperhatikanmu.
Namun kamu masih saja sibuk dengan urusan-urusanmu dan tidak menanggapi dengan benar akan adanya aku. Kamu masih sibuk dengan buku-buku agamamu, kamu masih saja sibuk dengan dzikirmu dan kau masih saja sibuk dengan kegiatan sosial di kampungmu.
Aku tahu bagaimana santunnya dirimu, bagaimana indahnya akhlakmu, dan betapa tulusnya hatimu. Tapi tak bisakah kau sejenak berhenti dan mamandang wajahku..? Tataplah aku… dan jangan kau tundukkan wajahmu,,, setidaknya ketika kau berdua bersamaku..
Ku kirimkan surat dan sebuah coklat untukmu.. sengaja ku sisipkan ke dalam tasmu..
Surat itu kutulis dengan tinta dan derai air mata untukmu.. ku ikat dengan pita merah untuk menunjukkan bagaimana perasaanku.. Agar kau sedikit mengerti tentang aku dan perasaanku.
Tapi.. nyatanya…
Aku tak pernah tahu apakah surat itu benar-benar sudah terbaca atau tidak olehmu.. Karena sikapmu masih sama seperti dulu, hanya mengucapkan salam, tersenyum ramah, basa basi seadanya dan kemudian beranjak meninggalkanku…
Aku tak pernah tahu apa perasaanmu pada aku..
***
Tak lama setelah kebangkitan mentari, kutemukan sebuah surat di depan pintu rumahku. Betapa girangnya aku ketika melihat namamu di belakang surat itu. Aku benar-benar bahagia dan meluapkan kegembiraan dengan menari dan berdendang seadanya. Ku timang surat itu diudara, kupeluk dan kubawa masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba tergambar wajahmu dalam anganku berharap puisi-puisi indah dalam suratmu.
Kuambil gunting dan ku potong sisi surat itu dengan penuh seksama,agar surat yang kau tulis tidak tersakiti oleh tajamnya benda itu. Aku memejamkan mataku sejenak, tak kuasa untuk melihat apa yang tertulis di dalamnya.. Dan kubaca isinya dengan suara lirih perlahan…
Maaf.. jika aku telah mengambil sebagian ruang dalam hatimu.
Maaf.. jika selama ini aku terus menyiksamu dengan kerinduan kepadaku..
Dan maaf,,, jika aku belum siap untuk menerima semua itu

Saat ini aku hanya ingin mencari
Akan sebuah makna hidup yang sejati

Aku hanya ingin mencari
Dzat yang tak penah berubah dan tak pernah terakhiri
Dan itu hanya kutemukan
Dalam uraian cinta untuk Tuhanku..
Maaf..
Aku hanya tidak ingin memalingkan hatiku
Selain dengan mengingat Dzat yang kekal itu
Sekali lagi maaf…
***
Mungkin selama ini aku salah dalam memandang cinta…
Karena seharusnya cinta itu menguatkan bukannya melemahkan
Karena seharusnya cinta itu mengingatkan bukannya melalaikan
Karena seharusnya cinta bukan hanya tentang, aku, kamu dan perasaan kita
Namun juga tentang Dia yang tak pernah terhilang oleh waktu..

Selasa, 20 Agustus 2013

Sekilas Pandangan Hidup


Manusia adalah bagian dari pandangan hidup.Tidak ada seorangpun manusia yang tidak memiliki pandangan hidup.Apapun yang di katakan manusia adalah sebuah pandangan hidup karena di pengaruhi oleh pola pikir tertentu.Pandangan hidup bersifat elastis,tergantung kepada situasi dan kondisi serta di pengaruhi juga oleh lingkungan hidup dimana manusia berada

George Washington Carver, "Where there is no vision, there is no hope."

"Jangan sampai kamu buat keputusan yang prematur hanya karena sebuah prinsip yang kamu pegang kuat-kuat. Padahal sebenernya kamu bisa kompromi sama prinsip yang kamu pegang dengan sedikit mengendurkan peganganmu, Yan. Jangan sampai kamu menyesal belakangan, karena setiap keputusan punya risiko masing-masing" Kak Hapsari dari blog Kak Dian


Pandangan hidup sendiri adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pandangan hidup itu adalah sebuah jalur yang dibuat untuk menentukan arah kehidupan seseorang, Pandangan hidup itu ibarat wadah dan Manusia adalah ibarat air yang mengikuti bagaimana bentuk wadah.. tapi sekali lagi Manusia adalah penentu ingin menempati wadah seperti apa.

Pandangan hidup atau mungkin beberapa orang menyebutnya sebagai Prinsip hidup, menurut saya adalah ibarat sketsa untuk mengambar, tiang untuk mendirikan bangunan, dan draft postingan blog yang siap untuk dipublish. Pandangan hidup adalah dasar tentang proses menjalani kehidupan

"If you limit your choices only to what seems possible or reasonable, you disconnect yourself from what you truly want, and all that is left is a compromise."
Robert Fritz

Dikarenakan banyak anggapan bahwa pandangan hidup adalah faktor utama dan terbesar dalam pembentukan jati diri manusia, muncul anggapan bahwa pandangan hidup adalah satu-satunya jalan untuk sukses, muncullah pemahaman yang salah seperti terjadinya manusia yang idealisme dan fanatisme. manusia yang konservatif... padahal pandangan hidup hanyalah pondasi, arah pergerakan tetap tergantung pada individu. pandangan hidup itu bersifat elastis dan fleksibel.

Pandangan hidup bukanlah tentang menjadikan manusia yang telah diciptakan nyaris sempurna dengan akal pikiran menjadi organisme hidup berbasis komputer yang berjalan hanya sebuah program, Manusia adalah makhluk yang belajar ( Mengenal, Mengerti, Menghayati, dan Meyakini). Manusia adalah makhluk yang disiapkan untuk hidup yang penuh spontanitas. bukan sekadar hanya berjalan dijalan lurus.

I will never know
Myself until I do this on my own
Linkin Park - Somewhere I belong

Pandangan hidup yang seharusnya dimiliki oleh seseorang adalah pandangan hidup yang membuat dalam bertingkah laku tidak sembarang bertingkah laku, yang menimbulkan rasa semangat, disiplin, dan sabar dalam menghadapi ujian-ujian dalam kehidupan. Yang membantu menentukan arah baik dan buruk, halal dan haram secara tepat.

Pandangan hidup adalah sesuatu hal yang membuat kita paham akan siapa diri kita sebenarnya ... Menurut Carl Jung,"Your vision will become clear only when you can look into your own heart."

Living a life without limits is the highest state of- Lieh Tzu

Seize the day or die regretting the time you lost ...
I see my vision burn, I feel my memories fade with time
But I'm too young to worry
A7X-Seize The Day

Senin, 19 Agustus 2013

Tentang Jilbab dan Akhlak




Malam ini, saya coba berdialektika dengan pikiran saya sendiri. Awalnya Cuma karena ada pertanyaan sederhana dari seorang perempuan. “Bang, Etis gak kalau seorang perempuan berkerudung tapi merokok?”. Saya pikir sebaik mungkin, mencoba untuk memisahkan antara etika dan kepantasan juga tradisi.

Ya, pertanyaan yang sederhana dengan jawaban yang sederhana pula. Dibeberapa film Indonesia yang berbau religiusitas, sosok perempuan yang berkerudung banyak dikesankan sebagai perempuan yang baik2. Padahal jika kita kembali menela’ah, apa kaitannya antara kerudung dengan sikap seseorang? Tentu satu dengan hal yang lainnya berbeda.

Apa fungsi kerudung, bukankah hanya untuk melindungi diri dari aurat yang dilarang untuk di tampilkan oleh agama? Lalu apa salahnya perempuan berkerudung lalu dia merokok dengan perempuan yang tidak berkerudung lalu dia merokok?. Bukankah perbedaannya hanya sekedar kerudung saja? Iyaa kan??

Lalu kenapa tidak timbul pertanyaan, apakah laki-laki yang merokok itu tidak etis?, kebanyakan dari mereka menjawab etis-etis saja kok. Loh, kenapa laki-laki merokok di sebut etis dan wanita merokok jadi tidak etis? Emang apa bedanya??. Apakah harus laki-laki menggunakan kerudung dulu, baru dia dianggap tidak etis untuk merokok ditempat umum? Aah ada-ada saja…

mudahnya begini aja deh yaa, jelas-jelas berbeda antara akhlak dengan berjilbab, jilbab merupakan pakaian yang memang diceritakan oleh Tuhan untuk menutup aurat, tak ada sama sekali kaitannya dengan akhlak seseorang. Jadi apabila ada seorang wanita yang menggunakan jibab namun berakhlak tidak baik, bukan berarti jilbabnya yang salah lalu dia diminta untuk melepas jilbabnya. Akhlak adalah soal prilaku, jilbab adalah soal pakaian. Perempuan yang tidak berkerudung bukan berarti tidak baik kan? So, jadilah perempuan yang berakhlak bukan karena pakaiannya, namun karena sikap dan prilakunya.