Rabu, 28 Agustus 2013

aku dan Masa Depan Independensi Pribadi



Nak, hari ini ayah membaca Natsir yang ditulis Majalah Tempo edisi 14-20 Juli 2008.  Entah mengapa, setiap ayah membaca kisah-kisah para tokoh pergerakan kemerdekaan, ayah selalu merasa haru, sedih, bahagia, senang, benci, sakit hati dan jengkel, semuanya menjadi satu.

Natsir, seoraang pembesar yang ikut melahirkan negeri ini. Diusianya yang belia, ia telah merasai semua tantangan hidup.  Sekolahnya terkatung-katung, tapi ia tak pernah berhenti belajar.  Tempat tinggalnya  berpindah-pindah, tapi ia tak pernah berhenti mencintai kampung halamannya.  Guru dan temannya terdiri dari berbagai macam manusia, tapi tak pernah menyurutkan idealismenya.

Anakku, Seorang Natsir tumbuh dimasa negeri ini dilanda gelombang dan pekik kemerdekaan.  Ia telah menjadi lawan politik yang berat, tapi sekaligus sahabat yang hangat.  Sementara itu pula, ia tetap menjadi seorang suami dan ayah bagi istri dan anak-anaknya.

Natsir hidup dengan kemuliaan dan kehormatan.  Dalam karir puncaknya dipemerintahan, ia tak malu dengan kemiskinan yang mendera.  Ketika ia tak lagi terlibat dalam pemerintahanpun, ia dan keluarganya dapat hidup dalam kesahajaan.  Dialah teladan anakku, banyak teladan lain yang dapat kita petik dari pahlawan semacam dia.

Kini, 100 tahun Natsir telah mengguncang negeri dengan berbagai pemberitaan media.  Komentar dan hasil riset diramu dalam tulisan-tulisan panjang dan pendek.  Tapi apakah semua itu hanya sebuah acara peringatan saja? mengenang saja? atau memungut 'berlian hikmah' yang telah ditebar Natsir sepanjang hidupnya?

Setelah membaca Natsir, ayah menjadi haru.  Haru karena kegigihan sikap dan perjuangannya tak dapat terbantahkan.  Namun sikap dan perjuangannya itu terus berkobar tanpa pamrih.  Sementara sekarang, orang-orang negeri ini, jangankan bersikap, punya niat bersikap saja sudah tak mampu.  Apalagi berjuang.
Ayah menjadi sedih, anakku.  Sedih lantaran diusia tiga tahunmu, ayah tidak menjadi siapa-siapa.  Ayah hanyalah seorang ayah bagimu, tapi belum buat negeri ini.  Tapi, diantara kesedihan itu, ayah masih bisa berbahagia.  Bahagia karena menjadi ayah bagimu, adik yang saat ini tengah dikandung bundamu dan menjadi suami bagi bundamu.  Bahagia karena kalian terus-menerus menjadi inspirasi dan spirit.  Itu saja sudah teramat membahagiakan.

Sementara itu, ayah masih diliputi perasaan benci lantaran membaca tulisan tentang Natsir itu.  Ayah kemudian tersadarkan lagi betapa negeri ini tak penah lepas dari ikatan perselingkuhan dengan penjajahnya.  Sepertinya hal ini adalah perselingkuhan abadi. Bagaiamana mungkin akan berakhir bila pengurus negeri sibuk memikirkan untung pribadinya masing-masing.  Barangkali Natsir dan pahlawan lain di dalam kuburnya meratap sejadi-jadinya demi melihat perselingkuhan ini.

Ayah menjadi sakit hati dan jengkel, anakku.  Sakit hati dan jengkel karena kebanyakan manusia di negeri ini berperilaku seperti binatang.  Hukum berkuasa atas yang lemah saja, sementara yang kuat semakin kebal.  Subsidi diperuntukkan bagi yang kaya saja, sementara si miskin semakin melarat.  Korupsi meraja lela, sementara pemimpin bangsa tak berani berbuat apa-apa.

Anakku, ketika ayah membaca tulisan tentang Natsir, ayah membayangkan engkau.  Membayangkan kau tumbuh besar dan menjadi dewasa diatas sistim yang kapitalistik.  Kau menjadi manusia diantara kebuasan sesamamu.

Karena itu anakku, jadilah manusia merdeka.  Merdeka dalam menjalankan hidup duniawimu, pendapat-pendapatmu, keyakinan spiritualmu, sikapmu, intelektualmu dan merdeka atas dirimu sendiri.  Tapi anakku, dalam proses kemerdekaanmu, landasilah dengan kekuatan yang bersumber hanya dari Allah SWT. Seperti Natsir melandasi dirinya untuk memperjuangkan segala kemerdekaannya.

Anakku tersayang, dalam kegalauan pikiran ini, hanya sepucuk surat ini yang dapat ayah tulis.  Ayah menulis diantara hiruk-pikuk persiapan organisasi masyarakat di Sibolangit.  Sementara ayah menulis, mereka tengah sibuk merumuskan strategi dan rencana.  Strategi dan rencana mereka untuk terbebas dari penindasan dan menjadi manusia merdeka.

Hampir dua tahun ini, ayah dan kawan-kawan memfasilitasi kelompok-kelompok kecil masyarakat di Sumatera Utara.  Banyak sekali pelajaran disini, ada juga banyak teladan.  Namun masih banyak pengkhianat berkeliaran.  Pengkhianat ini hanya mengatas-namakan masyarakat untuk memperoleh keuntungan pribadi.  Ya, barangkali kami masih mencari sosok seperti Natsir.

Bagi ayah, tak perlu memusuhi para pengkhianat.  Mereka layak dijadikan teman untuk memupuk semangat.  Kadang terpikir, bila mereka tak ada, bagaimana mungkin kita bisa hidup? toh kita tidak sedang berada di surga. Barangkali Natsir juga tak akan bisa menjadi tokoh besar bila tak ada perbedaan antar manusia.

Nak, Natsir saat ini terbujur kaku dalam kuburnya, tapi semangat yang ia kobarkan akan terus menggelegak di dalam jiwa kita.  Peringatan ulang tahunmu dan ulang tahun negeri ini takkan mampu memeredam semangat itu.

Anakku, tulisan ini ingin ayah hadiahkan pada ulang tahunmu 27 Agustus nanti.  Ayah tahu kau tak kan mampu mengerti, bahkan untuk mengeja kata-kata saja kau masih kesulitan.  Apalagi bicara soal seorang Natsir.  Walaupun ayah tahu bahwa semua huruf dalam tulisan ini mampu kau sebutkan satu per satu.

Ayah masih bisa berbangga karena kau dan ibumu tidak menjadi bagian dari orang-orang munafik.  Kita hidup dengan keringat kita sendiri tanpa harus korupsi dan menindas, kecuali pinjaman untuk cicilan rumah kita. Satu lagi yang membuat ayah bangga padamu, bahwa cukup kita berempat (aku, kau, bakal adikmu dan bunda) serta sebuah kue yang kau minta untuk ulang tahunmu kali ini.