Senin, 19 Agustus 2013

Tentang Jilbab dan Akhlak




Malam ini, saya coba berdialektika dengan pikiran saya sendiri. Awalnya Cuma karena ada pertanyaan sederhana dari seorang perempuan. “Bang, Etis gak kalau seorang perempuan berkerudung tapi merokok?”. Saya pikir sebaik mungkin, mencoba untuk memisahkan antara etika dan kepantasan juga tradisi.

Ya, pertanyaan yang sederhana dengan jawaban yang sederhana pula. Dibeberapa film Indonesia yang berbau religiusitas, sosok perempuan yang berkerudung banyak dikesankan sebagai perempuan yang baik2. Padahal jika kita kembali menela’ah, apa kaitannya antara kerudung dengan sikap seseorang? Tentu satu dengan hal yang lainnya berbeda.

Apa fungsi kerudung, bukankah hanya untuk melindungi diri dari aurat yang dilarang untuk di tampilkan oleh agama? Lalu apa salahnya perempuan berkerudung lalu dia merokok dengan perempuan yang tidak berkerudung lalu dia merokok?. Bukankah perbedaannya hanya sekedar kerudung saja? Iyaa kan??

Lalu kenapa tidak timbul pertanyaan, apakah laki-laki yang merokok itu tidak etis?, kebanyakan dari mereka menjawab etis-etis saja kok. Loh, kenapa laki-laki merokok di sebut etis dan wanita merokok jadi tidak etis? Emang apa bedanya??. Apakah harus laki-laki menggunakan kerudung dulu, baru dia dianggap tidak etis untuk merokok ditempat umum? Aah ada-ada saja…

mudahnya begini aja deh yaa, jelas-jelas berbeda antara akhlak dengan berjilbab, jilbab merupakan pakaian yang memang diceritakan oleh Tuhan untuk menutup aurat, tak ada sama sekali kaitannya dengan akhlak seseorang. Jadi apabila ada seorang wanita yang menggunakan jibab namun berakhlak tidak baik, bukan berarti jilbabnya yang salah lalu dia diminta untuk melepas jilbabnya. Akhlak adalah soal prilaku, jilbab adalah soal pakaian. Perempuan yang tidak berkerudung bukan berarti tidak baik kan? So, jadilah perempuan yang berakhlak bukan karena pakaiannya, namun karena sikap dan prilakunya.