Masih tentang dirimu..
Ya… masih dan akan tetap selalu tentang dirimu
Karena setiap pertanyaan yang muncul adalah tentang kamu
Tentang sikapmu dan kerinduanku
Ya.. karena kamu adalah jawaban..
dari semua pertanyaan yang membayang.
Boleh jadi kamu belum menyadarinya.. padahal sudah berulang kali
kulontarkan isyarat-isyarat untuk menunjukkan bagaimana perasaanku.
Tapi, entah mengapa itu tak berbalas ataupun berbekas di hatimu. Sikapmu
tetap biasa kepadaku. Pernah ku berpikir.. apakah kamu tahu tentang aku
dan cintaku? Apakah kamu berpura-pura dan tidak berempati atas keadaan
hatiku?
Aku disini…
Tapi kenapa kau tidak pernah benar-benar memandang wajahku…
Aku di dekatmu dan selalu memperhatikanmu.
Namun kamu masih saja sibuk dengan urusan-urusanmu dan tidak menanggapi
dengan benar akan adanya aku. Kamu masih sibuk dengan buku-buku agamamu,
kamu masih saja sibuk dengan dzikirmu dan kau masih saja sibuk dengan
kegiatan sosial di kampungmu.
Aku tahu bagaimana santunnya dirimu, bagaimana indahnya akhlakmu, dan
betapa tulusnya hatimu. Tapi tak bisakah kau sejenak berhenti dan
mamandang wajahku..? Tataplah aku… dan jangan kau tundukkan wajahmu,,,
setidaknya ketika kau berdua bersamaku..
Ku kirimkan surat dan sebuah coklat untukmu.. sengaja ku sisipkan ke dalam tasmu..
Surat itu kutulis dengan tinta dan derai air mata untukmu.. ku ikat
dengan pita merah untuk menunjukkan bagaimana perasaanku.. Agar kau
sedikit mengerti tentang aku dan perasaanku.
Tapi.. nyatanya…
Aku tak pernah tahu apakah surat itu benar-benar sudah terbaca atau
tidak olehmu.. Karena sikapmu masih sama seperti dulu, hanya mengucapkan
salam, tersenyum ramah, basa basi seadanya dan kemudian beranjak
meninggalkanku…
Aku tak pernah tahu apa perasaanmu pada aku..
***
Tak lama setelah kebangkitan mentari, kutemukan sebuah surat di depan
pintu rumahku. Betapa girangnya aku ketika melihat namamu di belakang
surat itu. Aku benar-benar bahagia dan meluapkan kegembiraan dengan
menari dan berdendang seadanya. Ku timang surat itu diudara, kupeluk dan
kubawa masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba tergambar wajahmu dalam anganku
berharap puisi-puisi indah dalam suratmu.
Kuambil gunting dan ku potong sisi surat itu dengan penuh seksama,agar
surat yang kau tulis tidak tersakiti oleh tajamnya benda itu. Aku
memejamkan mataku sejenak, tak kuasa untuk melihat apa yang tertulis di
dalamnya.. Dan kubaca isinya dengan suara lirih perlahan…
Maaf.. jika aku telah mengambil sebagian ruang dalam hatimu.
Maaf.. jika selama ini aku terus menyiksamu dengan kerinduan kepadaku..
Dan maaf,,, jika aku belum siap untuk menerima semua itu
Saat ini aku hanya ingin mencari
Akan sebuah makna hidup yang sejati
Aku hanya ingin mencari
Dzat yang tak penah berubah dan tak pernah terakhiri
Dan itu hanya kutemukan
Dalam uraian cinta untuk Tuhanku..
Maaf..
Aku hanya tidak ingin memalingkan hatiku
Selain dengan mengingat Dzat yang kekal itu
Sekali lagi maaf…
***
Mungkin selama ini aku salah dalam memandang cinta…
Karena seharusnya cinta itu menguatkan bukannya melemahkan
Karena seharusnya cinta itu mengingatkan bukannya melalaikan
Karena seharusnya cinta bukan hanya tentang, aku, kamu dan perasaan kita
Namun juga tentang Dia yang tak pernah terhilang oleh waktu..