Tulisan ini di ambil dari La Ode Khusnul Hulk dan dapat di lihat langsung melalui blog http://laodehuluk.blogspot.com/2011/11/surat-untuk-dekanku-25-26-november-2010.html
25-26, November 2010 M
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Senangnya
diriku jauh dari BUTON-SULAWESI TENGGARA bisa lulus untuk kuliah di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Mataku berbinar-binar akan keindahan
kampus yang biaya kuliahnya sedikit mustahil kalau dibanding dengan
kemegahannya. FAKULTAS-ku FDK yang kini berubah menjadi FIDKOM (Fakultas
Ilmu Dakwah dan Komunikasi), pertama kalinya kubelajar didalamnya
membuatku gembira tiada tara. Seringkali bahkan tiap kali mata kuliah
berbeda, para Dosen (orang tuaku dikampus) selalu menanyakan alasanku
kenapa jauh-jauh datang belajar kesini. Jawabku selalu sama yaitu,
“saafir tajid ‘iwadhon ‘amman tufaariquhu, fanshob fa inna
ladziiza-l’aisyi fin-nashobi”.
Moga Pak Dekan senang dan terhibur
dengan penggalan-penggalan kataku yang sudah cukup lama ingin
kuungkapkan pada almarhumah Ibuku.
Pak, sebelumnya saya harus mohon
maaf sama Bapak karena nama lengkap Bapak hingga kini mungkin saya
belum tahu kalau bukan peluang menulis “surat untuk dekanku” ini.
Hukuman apapun sangat pantas untuk mahasiswa KPI 3B ini Pak. Mungkin
kalau dosen-dosen lain yang membaca surat ini pasti wajahnya akan
berubah dan marah lantaran orang tuanya tak dikenali oleh anaknya. Tapi
please Pak, saya ingin bercerita sama Bapak walau cuman lewat beberapa
lembar kertas.
Bukan berarti saya tidak mengenal Bapak. Wajah,
profesionalisme dan kinerja Bapak terlihat oleh saya. Begitupun Dosen
yang mengajar dikelasku. Mungkin karena kegembiraan yang berlebihan dan
senang diajar dan didik Dosen di FIDKOM hingga saya tidak memerhatikan
nama-nama orang tua saya. Itu bukan berarti saya tak peduli sama
antum-antum. Berawal saya mengenal jiwa profesional, metode pengajaran
yang baik dan kerendahan hati Antum-antum membuatku tak dapat melupakan
nama Antum setelah mengetahuinya. Nama baik bukan sekedar nama, tapi
nama itu laksana jiwa yang selalu membuat saya membayangkan kehebatannya
jika mendengarnya. Seperti Soekarno, pertama kukenal kegigihan dan
keteladanan beliau bukan dengan nama Ir. Soekarno tapi dengan nama
“Sukarno”. Moga Bapak bisa paham maksud saya.
Bapak, Al-Marhumah Ibu
ketika masih semester satu bertanya akan eksistensiku dikampus. Dengan
bangga saya jawab, “Ibu, alhamdulillah saya berada di Fakultas dan
jurusan yang tepat,”. Jawabanku itu adalah hasil dari cermatan dan
penilaianku beberapa bulan kuliah di FDK/FIDKOM walau sedikit ragu.
Al-Marhumah senang mendengar jawabanku begitupun Ayahku. Pesan dari
Ayah, belajar dan bertawakkal serta berdo’a. Beberapa bulan
berkomunikasi membuat mereka bangga akan peningkatan pada diriku.
Pikirku, mereka pasti mengira FIDKOM-lah yang membuat peningkatan ini
walau hanya sedikit atau lebih umum, UIN-lah yang meningkati.
Sudah terlalu jauh melenceng dari tema. Baiklah Pak, saya mulai intinya.
Kalau
saya ditanya tentang apa saja yang berkembang di FIDKOM selama 20 tahun
ini, maka tidak ada yang bisa saya jawab kecuali perubahan nama
fakultasnya saja dari FDK-FIDKOM. Kurang lebih setahun empat bulan saya
kuliah, jelas pada FIDKOM akan kehidupannya yang ramai. Mulai dari
tempat nongkrong, sekret BEMF sampai kekompakan jajaran Dekan ketika
(jam istirihat sebelum shalat zuhur saya kadang tak sengaja melihatnya).
Dan yang lebih ramai lagi keragaman agenda dan kreasi yang ada didalam
fakultas ini. Keakraban Dosen dengan Mahasiswa melahirkan kreatif yang
spektakuler pada diri. Dukungan dan rangkulan terbukti ketika saya
ditantang Sirajuddin Ar-Ridho mantan BEM J KPI (2009-2010) menjadi
panitia Lomba Pembuatan Film Pendek untuk kalangan SLTA sejabodetabek.
Saya dan kawan-kawan KPI semester satu lainnya berhasil melakukannya
saat itu. Semuanya tidak lain dan tidak bukan karena kepercayaan tinggi
Dekan, KAJUR dan jajaran-jarannya kepada kami bahwa kami dapat berkarya
sejak dini.
Masih banyak bukti lain akan kedamaian FIDKOM yang
dimilikinya. Beberapa organisasi-oraganisasi kecil telah lahir di FIDKOM
seperti KLISE, VOC, GARUDA, TERAS KPI dll. Lebih dari itu, saya juga
menyaksikan dan mendengar curhatan teman-teman semester tiga jurusan
Management Dakwah ketika mau memberi FIDKOM lewat Acapella Nasyid mereka
di pembukaan DEDIKASI 20. Dan masih banyak lagi group-group kecil
lainnya yang Bapak dan jajaran Bapak belum tahu. Tapi mereka tak henti
berkarya atas nama Jurusan dan Fakultas. Radio dakwah yang lazim ada
diFIDKOM tidak mengubur kesempatan bagi para mahasiswa untuk belajar
penyiaran. Teman saya jurusan Jurnalistik semester tiga menjadi salah
satu penyiar di RDK.
Saya tidak bercerita sejarah FIDKOM karena
yakin Bapaklah yang lebih tahu. Dan saya percaya, FIDKOM pasti telah
melakukan reproduksi dengan cepat dan hebat. Hasil reproduksi itu jelas
terlihat oleh kami selaku mahasiswa karena FIDKOM telah banyak melakukan
hal-hal yang legendaris. Saya baru seumur jagung di KPI/FIDKOM seolah
sudah berumur lama. Mengapa? Karena senioritas di FIDKOM sangat bagus.
Saling menghargai, berpendapat dan mengoreksi selalu berputar diantara
mahasiswanya dari semester awal hingga akhir tanpa pandang pintar atau
kurang pintar.
Pernah saya bergaul dengan mahasiswa Fakultas
Syari’ah dan Hukum, salah satu teman saya president BEM F. Masalah yang
harusnya mahasiswa FSH perlu tahu kadang tidak mendapatkan kepercayaan
dari BEM. Maka tidak heran setiap ada agenda kecil sampai agenda besar,
yang memenage adalah president dan orang-orang atas. Sementara mahasiswa
semester satu/bawah sangat diragukan kemampuannya. Mungkin mereka ingin
agenda berjalan lancar.
Beda dengan FIDKOM Pak, saya melihat itu
bukan beropini semata. Dan saya bangga sama Bapak karena tidak ada
persyaratan keaktifan di BEM harus memperhatikan ukuran semester. Kami
bebas, sederhana, kaya ide, ikhlas dan mengantarkan kami kepada ukhuwah
islamiyah yang erat. Bapak sepertinya kagum akan perubahan yang terjadi
pada FIDKOM ini, itu kelihatan ketika secara tak sengaja kulihat wajah
Bapak tersenyum indah di waktu pembukaan DEDIKASI 20. Semoga manurutku
benar adanya. Hehehe,,,
Ada cerita pak. Tak sengaja saya melihat
beberapa orang berdiri agak jauh didepan banner agenda DEDIKASI 20
tepatnya depan Fakultas Tarbiyah. Saya perhatikan mereka agak lama
menatap dan membacanya. Saya menerka, mungkin lantaran banyaknya
rangkaian acara dari agenda Milad Dakwah ini. Setelah beberapa lama
mereka akhirnya meninggalkan banner itu dan mengacungkan jempol setelah
selangkah dari ayunan kaki mereka. Pemandangan ini sangat jelas bahwa
banyak yang ingin mengatakan good, best dan amazing for FIDKOM.
Bapak,
Ibu saya berpulang kerahmatullah sebulan sebelum Ramadhan kemarin.
Setiba diBUTON Ibu sudah tak bernafas. Jika beliau masih ada, saya
secepatnya memberitahu kalau fakultasku adalah medan yang tepat dan
terbaik untukku berkembang, bertempur dan berkarya. Saya berupaya
melakukan itu dan terus belajar dari kakak-kakak saya di FIDKOM.
Di
agenda DEDIKASI 20 ini ungkapan yang selalu kudengar, “Dakwah memang
Fakultas Besar, kalau buat acara pasti hebat”. Agar Bapak tahu dan saya
berharap di DEDIKASI ini uluran tangan bapak selalu ada dan bagiku itu
adalah nafas bagi para Panitia dan yang mendukung acara ini. Termaksud
saya dan mahasiswa Fakultas ini. Sebenarnya ini belum seberapa, masih
banyak harapan-harapan lain. Beberapa orang berkata, agenda sebesar ini
belum pernah di adakan UIN sendiri. Amazing Pak... hehehe. Dan ungkapan
heran bercampur kagum akan lahirnya organ-organ kecil di FIDKOM seperti
yang saya singgung diatas bisa-bisa UKM tersaingi kalau pihak Dekan
selalu mendukung dan menfasilitasi.
Pak, bantu kami untuk
menyingsingkan tangan, melangkahkan kaki kedepan untuk berkerja dan
berkarya. Agar kami dapat hiasi masa muda ini dengan aktif sebagai ajang
menyalurkan aspirasi dan ummat Islam di FIDKOM ini.
Sekian tulisan
saya, jika ada kata-kata lancang mohon dimalukmi karena itulah semangat
saya hingga berdampak pada kelemahan tulis saya. Sekali lagi saya ingin
bilang, saya kenal bapak bukan berawal dari nama yang berembel-embel
namun nama yang begitu bermakna dan realita. Wassalam,,.
La Ode Chusnul Huluk KPI 3B
TOLANDONA, BUTON SULAWESI TENGGARA