Nak,
hari ini ayah membaca Natsir yang ditulis Majalah Tempo edisi 14-20 Juli
2008. Entah mengapa, setiap ayah membaca kisah-kisah para tokoh
pergerakan kemerdekaan, ayah selalu merasa haru, sedih, bahagia, senang, benci,
sakit hati dan jengkel, semuanya menjadi satu.
Natsir,
seoraang pembesar yang ikut melahirkan negeri ini. Diusianya yang belia, ia
telah merasai semua tantangan hidup. Sekolahnya terkatung-katung, tapi ia
tak pernah berhenti belajar. Tempat tinggalnya berpindah-pindah, tapi
ia tak pernah berhenti mencintai kampung halamannya. Guru dan temannya
terdiri dari berbagai macam manusia, tapi tak pernah menyurutkan idealismenya.
Anakku,
Seorang Natsir tumbuh dimasa negeri ini dilanda gelombang dan pekik
kemerdekaan. Ia telah menjadi lawan politik yang berat, tapi sekaligus
sahabat yang hangat. Sementara itu pula, ia tetap menjadi seorang suami
dan ayah bagi istri dan anak-anaknya.
Natsir
hidup dengan kemuliaan dan kehormatan. Dalam karir puncaknya
dipemerintahan, ia tak malu dengan kemiskinan yang mendera. Ketika ia tak
lagi terlibat dalam pemerintahanpun, ia dan keluarganya dapat hidup dalam
kesahajaan. Dialah teladan anakku, banyak teladan lain yang dapat kita
petik dari pahlawan semacam dia.
Kini,
100 tahun Natsir telah mengguncang negeri dengan berbagai pemberitaan
media. Komentar
dan hasil riset diramu dalam tulisan-tulisan panjang dan pendek. Tapi
apakah semua itu hanya sebuah acara peringatan saja? mengenang saja? atau
memungut 'berlian hikmah' yang telah ditebar Natsir sepanjang hidupnya?
Setelah membaca Natsir, ayah menjadi
haru. Haru
karena kegigihan sikap dan perjuangannya tak dapat terbantahkan. Namun
sikap dan perjuangannya itu terus berkobar tanpa pamrih. Sementara
sekarang, orang-orang negeri ini, jangankan bersikap, punya niat bersikap saja
sudah tak mampu. Apalagi berjuang.
Ayah menjadi sedih, anakku. Sedih
lantaran diusia tiga tahunmu, ayah tidak menjadi siapa-siapa. Ayah
hanyalah seorang ayah bagimu, tapi belum buat negeri ini. Tapi, diantara
kesedihan itu, ayah masih bisa berbahagia. Bahagia karena menjadi ayah
bagimu, adik yang saat ini tengah dikandung bundamu dan menjadi suami bagi
bundamu. Bahagia karena kalian terus-menerus menjadi inspirasi dan
spirit. Itu saja sudah teramat membahagiakan.
Sementara itu, ayah masih diliputi perasaan
benci lantaran membaca tulisan tentang Natsir itu. Ayah kemudian
tersadarkan lagi betapa negeri ini tak penah lepas dari ikatan perselingkuhan
dengan penjajahnya. Sepertinya hal ini adalah perselingkuhan abadi. Bagaiamana
mungkin akan berakhir bila pengurus negeri sibuk memikirkan untung pribadinya
masing-masing. Barangkali Natsir dan pahlawan lain di dalam kuburnya
meratap sejadi-jadinya demi melihat perselingkuhan ini.
Ayah menjadi sakit hati dan jengkel,
anakku. Sakit hati dan jengkel karena kebanyakan manusia di negeri ini
berperilaku seperti binatang. Hukum berkuasa atas yang lemah saja,
sementara yang kuat semakin kebal. Subsidi diperuntukkan bagi yang kaya
saja, sementara si miskin semakin melarat. Korupsi meraja lela, sementara
pemimpin bangsa tak berani berbuat apa-apa.
Anakku, ketika ayah membaca tulisan tentang
Natsir, ayah membayangkan engkau. Membayangkan kau tumbuh besar dan
menjadi dewasa diatas sistim yang kapitalistik. Kau menjadi manusia
diantara kebuasan sesamamu.
Karena itu anakku, jadilah manusia
merdeka. Merdeka dalam menjalankan hidup duniawimu, pendapat-pendapatmu,
keyakinan spiritualmu, sikapmu, intelektualmu dan merdeka atas dirimu
sendiri. Tapi anakku, dalam proses kemerdekaanmu, landasilah dengan
kekuatan yang bersumber hanya dari Allah SWT. Seperti Natsir melandasi dirinya
untuk memperjuangkan segala kemerdekaannya.
Anakku tersayang, dalam kegalauan pikiran
ini, hanya sepucuk surat ini yang dapat ayah tulis. Ayah menulis diantara
hiruk-pikuk persiapan organisasi masyarakat di Sibolangit. Sementara ayah
menulis, mereka tengah sibuk merumuskan strategi dan rencana. Strategi
dan rencana mereka untuk terbebas dari penindasan dan menjadi manusia merdeka.
Hampir dua tahun ini, ayah dan kawan-kawan memfasilitasi
kelompok-kelompok kecil masyarakat di Sumatera Utara. Banyak sekali
pelajaran disini, ada juga banyak teladan. Namun masih banyak pengkhianat
berkeliaran. Pengkhianat ini hanya mengatas-namakan masyarakat untuk
memperoleh keuntungan pribadi. Ya, barangkali kami masih mencari sosok
seperti Natsir.
Bagi ayah, tak perlu memusuhi para
pengkhianat. Mereka layak dijadikan teman untuk memupuk semangat.
Kadang terpikir, bila mereka tak ada, bagaimana mungkin kita bisa hidup? toh
kita tidak sedang berada di surga. Barangkali Natsir juga tak akan bisa menjadi
tokoh besar bila tak ada perbedaan antar manusia.
Nak, Natsir saat ini terbujur kaku dalam
kuburnya, tapi semangat yang ia kobarkan akan terus menggelegak di dalam jiwa
kita. Peringatan ulang tahunmu dan ulang tahun negeri ini takkan mampu
memeredam semangat itu.
Anakku, tulisan ini ingin ayah hadiahkan pada
ulang tahunmu 27 Agustus nanti. Ayah tahu kau tak kan mampu mengerti, bahkan untuk
mengeja kata-kata saja kau masih kesulitan. Apalagi bicara soal seorang
Natsir. Walaupun ayah tahu bahwa semua huruf dalam tulisan ini mampu kau
sebutkan satu per satu.
Ayah masih bisa berbangga karena kau dan
ibumu tidak menjadi bagian dari orang-orang munafik. Kita hidup dengan
keringat kita sendiri tanpa harus korupsi dan menindas, kecuali pinjaman untuk
cicilan rumah kita. Satu lagi yang membuat ayah bangga padamu, bahwa cukup
kita berempat (aku, kau, bakal adikmu dan bunda) serta sebuah kue yang kau
minta untuk ulang tahunmu kali ini.